Fakta Hajar Aswad: Batu Surga yang Menyimpan Ribuan Cerita
Hajar Aswad merupakan salah satu peninggalan paling suci dalam agama Islam yang terletak di sudut timur laut Ka’bah, Masjidil Haram. Jutaan umat Muslim dari seluruh dunia bermimpi untuk dapat melihat, mencium, atau sekadar menyentuhnya saat menunaikan ibadah haji dan umrah. Namun, di balik keberadaannya yang begitu diagungkan, terdapat berbagai fakta Hajar Aswad menarik yang menyimpan sejarah dan keistimewaan luar biasa.
Asal Usul Hajar Aswad dan Sejarah Menurut Islam
Secara harfiah, Hajar Aswad berarti “Batu Hitam”. Kendati demikian, dalam tradisi dan ajaran Islam, batu ini diyakini tidak berasal dari bumi. Diriwayatkan dalam hadis bahwa Hajar Aswad adalah batu yang diturunkan langsung dari surga oleh Allah SWT melalui Malaikat Jibril.
Awalnya, batu ini berwarna putih bersih melebihi putihnya susu. Namun, seiring berjalannya waktu dan akibat dosa-dosa manusia yang menyentuhnya, warnanya berubah menjadi hitam pekat sebagaimana yang kita lihat hari ini.
Peran Nabi Ibrahim AS dan Nabi Muhammad SAW
Dalam sejarah pembangunannya, Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS, meletakkan batu ini sebagai penanda titik awal tawaf ketika membangun kembali dinding Ka’bah.
Ratusan tahun kemudian, sebelum masa kenabian, Rasulullah SAW memperlihatkan kebijaksanaannya saat kabilah-kabilah Quraisy berselisih tentang siapa yang berhak memindahkan Hajar Aswad setelah renovasi Ka’bah. Nabi Muhammad SAW membentangkan kainnya dan mengajak seluruh pemuka suku mengangkat batu tersebut bersama-sama untuk menghindari bentrokan.
Keistimewaan dan Bentuk Hajar Aswad Saat Ini
Tidak hanya memiliki nilai sejarah yang panjang, terdapat banyak keistimewaan yang melekat pada batu suci ini. Meneladani sunnah Rasulullah SAW, mencium atau memberi isyarat salam (istilam) ke arah Hajar Aswad sangat dianjurkan bagi jamaah yang sedang mengelilingi Ka’bah.
Secara fisik, banyak orang mengira bentuk Hajar Aswad adalah satu batu utuh yang berukuran besar. Padahal, akibat berbagai peristiwa sejarah masa lalu—seperti invasi dan kebakaran—batu ini sempat pecah menjadi beberapa bagian.
Aroma Harum dan Bingkai Perak Pembungkusnya
Saat ini, pecahan Hajar Aswad yang tersisa terdiri dari sekitar 8 fragmen kecil yang disatukan menggunakan semen khusus dan dilindungi oleh bingkai perak murni berbentuk oval. Bingkai perak ini dipasang khusus untuk menjaga pecahan batu agar tetap aman dan melekat kuat di dinding Ka’bah.
Selain itu, Hajar Aswad juga terkenal dengan aroma harum khasnya. Petugas pengelola Masjidil Haram secara berkala membersihkan dan mengoleskan minyak wangi berkualitas tinggi, seperti minyak gaharu dan mawar murni, untuk menjaga keharuman batu surga ini.
Melihat Langsung Hajar Aswad di Tanah Suci bersama Labbayku
Memahami fakta Hajar Aswad dan sejarahnya akan membuat momen ibadah di Tanah Suci menjadi lebih berkesan dan penuh rasa haru. Sebab, batu surga ini menjadi saksi bisu perjalanan panjang para nabi hingga umat Islam hari ini. Oleh karena itu, tidak ada momen yang lebih berharga selain bisa menyaksikan dan mendekati Ka’bah secara langsung di Makkah — di mana setiap amal dilipatgandakan pahalanya. Selain itu, kunjungi referensi resmi di quran.kemenag.go.id dan kemenag.go.id untuk panduan ibadah yang lebih lengkap.
Ingin menyaksikan keindahan Ka’bah dan Hajar Aswad langsung di Makkah dan Madinah? Kunjungi labbayku.com/paket-umroh atau follow Instagram @labbayku untuk paket umroh terpercaya bersama Labbayku.