Dalam beberapa tahun terakhir, kebijakan terkait mahram umroh telah menjadi topik yang banyak diperbincangkan. Pemerintah Arab Saudi kini membolehkan wanita untuk melaksanakan umroh tanpa didampingi mahram, sebuah perubahan yang menimbulkan beragam pendapat di kalangan umat Islam. Meskipun kebijakan ini telah diterapkan, perdebatan mengenai hukum syariat terkait mahram umroh tetap menjadi perhatian utama, mengingat banyaknya dalil yang menegaskan pentingnya pendampingan mahram bagi wanita yang melakukan perjalanan jauh, termasuk umroh.
Pertanyaan: Ustadz, apakah sekarang ini wanita sudah boleh safar tanpa mahram? Saya mendengar bahwa Saudi Arabia sudah membolehkan umrah tanpa dibersamai mahram. Apakah ini berarti hadits larangan safar tanpa mahram sudah tidak berlaku lagi?
Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu wassalamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.
Pertama-tama, perlu dipahami bahwa kebijakan dari negara Saudi Arabia yang membolehkan umrah tanpa mahram tidak mengubah hukum mengenai larangan safar tanpa mahram. Larangan ini tetap berlaku hingga hari Kiamat, berdasarkan banyak dalil yang shahih.
Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seorang wanita tidak boleh melakukan safar kecuali bersama mahramnya. Dan lelaki tidak boleh masuk ke rumahnya kecuali ada mahramnya.” (HR. Bukhari no. 1862, Muslim no. 1341).
Ini adalah pendapat jumhur ulama, bahkan dianggap sebagai kesepakatan ulama. Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah mengatakan: “Ulama tidak berbeda pendapat bahwa terlarang wanita bersafar tanpa suami atau mahramnya, kecuali untuk perkara-perkara yang wajib.” (Fathul Bari, 4/76).
Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’ (komisi fatwa Saudi Arabia) juga menyatakan: “Diharamkan bagi wanita untuk bersafar tanpa mahram secara mutlak, baik safarnya dekat maupun jauh.” (Fatawa Al-Lajnah, 17/339).
Khusus untuk Haji dan Umrah Dalam konteks haji atau mahram umroh yang wajib, terdapat tiga pendapat di kalangan ulama:
-
Pendapat Pertama: Tidak boleh safar haji tanpa mahram, dan adanya mahram adalah syarat wajib haji. Jika tidak ada mahram, maka haji tidak wajib, meskipun wanita tersebut mampu. Ini adalah pendapat Hanabilah dan Hanafiyah.
-
Pendapat Kedua: Wanita boleh bersafar untuk haji atau mahram umroh tanpa mahram jika ditemani orang-orang yang terpercaya dan aman dari fitnah. Ini adalah pendapat ulama Syafi’iyyah.
-
Pendapat Ketiga: Wanita wajib ditemani mahram ketika safar untuk haji atau mahram umroh. Namun, jika tidak ada mahram atau tidak memungkinkan, boleh bersafar tanpa mahram selama ditemani orang-orang terpercaya. Ini adalah pendapat ulama Malikiyyah dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Kebijakan Pemerintah Saudi Arabia Meskipun pemerintah Saudi Arabia mengeluarkan kebijakan yang membolehkan wanita berumrah tanpa mahram, beberapa poin perlu diperhatikan: • Hukum Syari Tidak Berubah: Kebijakan tersebut tidak mengubah hukum syari yang berlandaskan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah. • Kebijakan Pemerintah: Kebijakan ini merupakan aturan administratif perjalanan luar negeri, bukan fatwa yang berkaitan dengan hukum syari. • Kewajiban Mahram Tetap Ada: Wanita yang bersafar untuk haji atau mahram umroh tetap diwajibkan untuk dibersamai mahramnya, meskipun pemerintah tidak mempersyaratkannya. • Tidak Mempengaruhi Safar Lain: Kebijakan ini tidak berpengaruh pada safar wanita ke tempat-tempat lain selain dua tanah suci di Saudi Arabia. • Masalah Khilafiyah: Kebijakan tersebut sesuai dengan pendapat Syafi’iyyah, namun tidak mengubah pendapat jumhur yang melarang wanita bersafar tanpa mahram.
Pendapat Resmi Ulama: Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’ tetap memfatwakan haramnya wanita safar tanpa mahram secara mutlak. Oleh karena itu, meskipun ada kebijakan baru, mahram umroh tetap menjadi hal penting yang perlu diperhatikan oleh setiap jamaah wanita.
Semoga penjelasan ini dapat membantu memahami masalah ini dengan lebih jelas.
Wabillahi at taufiq was sadaad. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala Alihi wa Shahbihi ajma’in.