Sebelum melaksanakan ibadah haji dan umroh, sangat penting untuk memahami rukun serta keutamaannya agar ibadah yang dijalankan sesuai dengan tuntunan syariat dan bernilai sempurna di sisi Allah. Haji dan umroh bukan sekadar perjalanan fisik ke Tanah Suci, tetapi juga perjalanan spiritual yang membutuhkan persiapan ilmu dan hati. Dengan memahami rukun-rukunnya, jamaah dapat memastikan bahwa setiap tahapan ibadah dilakukan dengan benar, sementara mengetahui keutamaannya akan semakin meningkatkan kesadaran dan keikhlasan dalam menjalankannya. Artikel ini akan membahas secara rinci tentang rukun-rukun haji dan umroh, serta keutamaan yang terkandung di dalamnya. Bacalah hingga akhir agar mendapatkan wawasan yang mendalam dan dapat mempersiapkan diri dengan baik sebelum menunaikan ibadah yang mulia ini.
A. Umroh
Umrah adalah beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tawaf di Baitullah dan sa’i antara bukit Shafa dan Marwah, menggundul atau bercukur.
1. Rukun Umroh
1.) Ihram
Yaitu niat memulai umrah, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa sallam:
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ.
“Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya.”
2,3.) Thawaf dan Sa’i
Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ
“…Dan hendaklah mereka melakukan Thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” [Al-Hajj/22: 29]
Firman-Nya:
إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَائِرِ اللَّهِ
“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi’ar Allah…” [Al-Baqarah/2: 158]
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
اِسْعَوْا، إنَّ اللهَ كَتَبَ عَلَيْكُمُ السَّعْيَ.
“Kerjakanlah sa’i, sesungguhnya Allah telah mewajibkan sa’i atas kalian.”
4.) Mencukur rambut atau memendekkannya
Berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ لَمْ يَكُنْ مِنْكُمْ هَدْىَ فَلْيَطُفْ بِالْبَيْتِ وَبِالصَّفَا وَالْمَرْوَةِ وَلْيُقَصِّرْ وَلْيُحَلِّلْ.
“Barangsiapa di antara kalian yang tidak membawa hewan kurban, hendaknya ia thawaf di Baitullah, sa’i antara Shafa dan Marwah, kemudian memendekkan rambut dan bertahallul.”
Hal-Hal Yang Diwajibkan Dalam Umrah
Bagi orang yang hendak menunaikan ibadah umrah wajib berihram dari miqat, jika ia tinggal di luar miqat. Apabila ia tinggal dalam batas miqat, maka ia berihram dari rumahnya. Adapun orang yang tinggal di kota Makkah, mereka harus keluar ke daerah halal dan berihram dari sana, berdasarkan sabda Rasulullah ke-pada ‘Aisyah agar berihram dari Tan’im.
2. Keutamaan Umroh
Diantara hadits yang menunjukkan akan keutamaan umrah ialah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ » [أخرجه البخاري و مسلم]
“Ibadah umrah dengan ibadah umrah lainnya adalah sebagai penghapus dosa antara keduanya. Sedangkan (ganjaran) bagi haji mabrur maka tidak ada balasan untuknya melainkan surga“. HR Bukhari no: 1773. Muslim no: 1349.
Demikian juga dijelaskan dalam sebuah riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan: “Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ » [أخرجه النسائي]
“Iringilah ibadah haji dan umrah dengan ibadah haji dan umrah lainnya, karena sesungguhnya kedua ibadah tersebut bisa mengikis kefakiran dan dosa, sebagaimana halnya tukang pandai besi mengikis karat yang ada dalam besi“. HR Nasa’i no: 2630. Dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam shahih sunan an-Nasa’i 2/558 no: 2467.
B. Haji
Haji yaitu beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menunaikan manasik/ibadah-ibadah menurut sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di tempat yang tertentu dan di masa yang tertentu.
1. Rukun Haji
1.) Niat
Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…” [Al-Bayyinah/98: 5]
Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ.
“Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya.”
2.) Wukuf di ‘Arafah
Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
اَلْحَجُّ عَرَفَةُ.
“Haji adalah wukuf di ‘Arafah.”
Juga berdasarkan hadits ath-Tha-i, ia berkata, “Aku mendatangi Rasulullah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Muzdalifah ketika beliau keluar untuk shalat, aku bertanya kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, aku datang dari gunung kembar Thaya, tungganganku telah kubuat lemah, dan diriku juga telah lelah, demi Allah aku tidak meninggalkan satu gunung pun kecuali aku berhenti di sana, apakah aku mendapatkan haji?’ Beliau menjawab.
مَنْ شَهِدَ صَلاتَنَا هَذِهِ وَوَقَفَ مَعَنَا حَتَّى نَدْفَعَ وَقَدْ وَقَفَ بِعَرَفَةَ قَبْلَ ذَلِكَ لَيْلاً أَوْ نَهَارًا فَقَدْ تَمَّ حَجُّهُ وَقَضَى تَفَثَهُ.
“Barangsiapa yang mengikuti shalat kami (di Muzdalifah) lalu bermalam bersama kami hingga kami berangkat, dan sebelum itu dia benar-benar telah wukuf di ‘Arafah pada malam atau siang hari, maka hajinya telah sempurna dan ia telah menghilangkan kotorannya.”
3.) Menginap di Muzdalifah sampai terbit fajar dan shalat Shubuh di sana
Berdasarkan sabda beliau kepada ‘Urwah pada hadits tadi, “Barangsiapa yang mengikuti shalat kami (di Muzdalifah), lalu bermalam bersama kami hingga kami berangkat, dan sebelum itu dia benar-benar telah wukuf di ‘Arafah pada malam atau siang hari, maka hajinya telah sempurna dan ia telah menghilangkan kotorannya.”
4.) Thawaf Ifadhah
Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ
“…Dan hendaklah mereka melakukan Thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” [Al-Hajj/22: 29]
Dan dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Shafiyah binti Huyay mengalami haidh setelah merampungkan thawaf Ifadhah.” Lalu ia berkata lagi, “Kemudian hal tersebut aku beritahukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau pun bersabda, “Apakah ia akan menghalangi kita (untuk pergi)?” “Wahai Rasulullah, ia telah thawaf Ifadhah, ia telah thawaf mengelilingi Ka’bah lalu haidh setelah thawaf Ifadhah,” jawabku. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Kalau begitu kita berangkat.””
Sabda beliau, “Apakah ia akan menghalangi kita (untuk pergi)?” Menunjukkan bahwa thawaf ini harus dikerjakan, thawaf ini dapat menghalangi kepergian orang yang belum melaksanakannya.
5.) Sa’i antara Shafa dan Marwah
Berdasarkan sa’inya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sabda beliau:
اِسْعَوْا، إنَّ اللهَ كَتَبَ عَلَيْكُمُ السَّعْيَ.
“Kerjakanlah sa’i, sesungguhnya Allah telah mewajibkan sa’i atas kalian.”
Hal-Hal Yang Diwajibkan Dalam Haji
1.) Berihram dari miqat-miqat
Yaitu dengan melepas pakaian dan mengenakan pakaian ihram, kemudian niat dengan mengucapkan:
لَبَّيْكَ اَللَّهُمَّ بِعُمْرَةٍ.
“Aku penuhi panggilanmu ya Allah untuk menunaikan ibadah ‘umrah.”
Atau:
لَبَّيْكَ اَللَّهُمَّ حَحَّةً وَعُمْرَةً.
“Aku penuhi panggilanmu ya Allah untuk menunaikan ibadah haji dan umrah.”
2.) Bermalam di Mina pada malam hari-hari Tasyriq
Hal ini karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bermalam di sana. Beliau memberi keringanan bagi pengembala unta di Baitullah, mereka melontar pada hari Nahr (hari raya kurban), sehari setelahnya, lalu dua hari setelahnya dan pada hari mereka menyelesaikan ibadah haji (nafar).“ Rasulullah memberi keringanan kepada mereka, ini merupakan dalil akan wajibnya hal ini bagi yang lainnya.
3.) Melempar jumrah secara tertib
Yaitu dengan melempar jumrah ‘Aqabah pada hari Nahr menggunakan tujuh kerikil, lalu melempar ketiga jumrah pada hari-hari tasyrik setelah matahari tergelincir, setiap jumrah dilempar dengan tujuh kerikil, dimulai dengan jumrah Ula kemudian jumrah Wustha dan diakhiri dengan jumrah ‘Aqabah.
4.) Thawaf Wada’
Berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma: “Telah diperintahkan kepada manusia agar mengakhiri ibadah hajinya dengan thawaf di Baitullah, namun diberi kelonggaran bagi wanita haidh.”
5.) Mencukur rambut atau memendekkannya
Mencukur dan memendekkan rambut disyari’atkan, baik dalam al-Qur-an, as-Sunnah maupun ijma’.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَّقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ ۖ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِن شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ
“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesunguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut…” [Al-Fath/48: 27]
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a:
اَللّهُمَّ ارْحَمِ الْمُحَلِّقِيْنَ، قَالُوْا: وَالْمُقَصِّرِينَ، يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: اَللّهُمَّ ارْحَمِ الْمُحَلِّقِيْنَ، قَالُوْا: وَالْمُقَصِّرِيْنَ، يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: اَللّهُمَّ ارْحَمِ الْمُحَلِّقِيْنَ، قَالُوْا: وَالْمُقَصِّرِيْنَ، يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ: وَالْمُقَصِّرِيْنَ.
“Ya Allah, rahmatilah orang-orang yang mencukur (gundul) rambutnya.” Mereka berkata, “Dan orang-orang yang memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah?” Beliau berdo’a lagi, “Ya Allah, rahmatilah orang-orang yang mencukur (gundul) rambutnya.” Mereka berkata, “Dan orang-orang yang memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah?” Beliau berdo’a lagi, “Ya Allah, rahmatilah orang-orang yang mencukur (gundul) rambutnya.” Mereka berkata, “Dan orang-orang yang memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah?” Beliau berdo’a lagi, “Dan orang-orang yang memendekkan rambutnya.”
Jumhur ahli fiqih berselisih pendapat akan hukum mencukur atau memendekkan rambut ini. Sebagian besar dari mereka berpendapat hukumnya wajib, orang yang meninggalkannya wajib membayar dam, sedangkan ahli fiqh madzhab Syafi’i berpendapat mencukur atau memendekkan rambut merupakan salah satu di antara rukun-rukun haji. Faktor yang membuat mereka berselisih pendapat adalah karena tidak adanya dalil yang menguatkan pen-dapat yang pertama maupun yang kedua, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh kami, al-Albani.
B. Keutamaan Haji
Pertama : Ibadah haji menghapuskan semua dosa sebelumnya.
فعن عمرو بن العاص – رضي الله عنه – في قصة إسلامه، وفيها: “فلمَّا جعل اللهُ الإسلامَ في قلبي، أتيْتُ النَّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – فقلتُ: “ابسطْ يمينكَ؛ فلأبايعكَ، فبسط يمينه”، قال: “فقبضْتُ يدي”، قال: ((ما لك يا عمرو؟))، قال: “قلتُ: أردتُ أن أشترطَ”، قال: ((تشترطُ بماذا؟))، قلتُ: “أن يُغفَر لي”، قال: ((أما علمتَ أنَّ الإسلامَ يهدم ما كان قبله، وأنَّ الهِجرةَ تهدِمُ ما كان قبلَها، وأنَّ الحجَّ يهدم ما كان قبله؟
Dari Amr bin Ash Radhiallahu anhu tentang kisah dirinya saat masuk Islam, di dalamnya disebutkan pada saat Islam telah disemayamkan oleh Allah Subhanahu wa ta’alla di dalam hatiku maka aku mendatangi Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dan berkata kepadanya: Bentangkanlah tanganmu sungguh aku ingin berbai’at kepadamu, maka Nabi pun membentangkan tangan kanannya dan dia berkata: Namun aku mengambil tanganku dan beliau bertanya: Apa yang terjadi padamu wahai Amru?. Aku berkata : Aku harus memberikan syarat? Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Silahkan buatlah syarat dan apakah syaratmu?!. Aku berkata: Bahwa semua dosa-dosaku diampuni. Lalu Beliau bersabda, “Tidakkah engkau mengetahui bahwa Islam menghapuskan dosa-dosa sebelum ini, hijrah menghapuskan dosa-dosa sebelum ini dan berhaji menghapuskan dosa-dosa sebelumnya?.
Dari Abi Hurairah radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
وعن أبي هريرة قالَ: سَمِعْتُ رسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقولُ: منْ حجَّ فَلَم يرْفُثْ، وَلَم يفْسُقْ، رجَع كَيَومِ ولَدتْهُ أُمُّهُ. متفقٌ عَلَيْهِ
“Barangsiapa yang menunaikan haji dan dia tidak berkata-kata kotor, berbuat dosa maka dia akan kembali bersih dari dosanya sama seperti saat dirinya baru dilahirkan oleh ibunya”.
Kedua : Berhaji adalah amal ibadah yang paling baik setelah beriman kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan berjihad.
عن أبي هُريرة – رضي الله عنه – أنَّ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – سُئل: أيُّ العمل أفضل؟ قال: ((إيمانٌ بالله ورسوله))، قيل: ثم ماذا؟ قال: ((الجهاد في سبيل الله))، قيل: ثم ماذا؟ قال: ((حجٌّ مبرورٌ))
Dari Abi Hurairah radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam ditanya: Amal apakah yang paling baik?. Beliau menjawab: Beriman kepada Allah dan Rasul –Nya. Kemudian beliau ditanya kembali: Kemudian amal apa lagi?. Beliau menjawab: Berjihad di jalan Allah Shubhanahu wa ta’alla. Kemudian apa?. Haji yang mabrur”.
Ketiga: Biaya yang dikeluarkan untuk berhaji akan dilipatkan gandakan pahalanya bagi pelakunya sebagaimana dilipatgandakannya pahala orang yang berjihad di jalan Allah Shubhanahu wa ta’alla.
عن بُرَيْدَة – رضي الله عنه – أنَّ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – قال: ((النَّفَقَةُ فِي الْحَجِّ كَالنَّفَقَةِ فِي سَبِيلِ اللهِ بِسَبْعمائةِ ضِعْفٍ))
Baca Juga Amalan-amalan Haji
Dari Buraidah radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Biaya berhaji sama dengan biaya yang dikeluarkan dalam berjihad di jalan Allah Shubhanahu wa ta’alla dia akan dilipatgandakan sehingga mencapai tujuhratus kali lipat”.
Keempat: Haji yang dikerjakan karena Allah dan sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, jika biayanya dari harta yang halal dan baik maka balasannya adalah surga.
عن أبي هُريرة، أنَّ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – قال: ((العمرة إلى العمرة كفارةٌ لما بينهما، والحجُّ المبرور ليس له جزاءٌ إلا الجنَّة))
Dari Abi Hurairah radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Antara umrah yang satu dengan yang lainnya adalah penghapus dosa di antara keduanya dan haji yang mabrur tidak memiliki balasan kecuali surga”.
Kelima: Haji dan Umroh sebagai sebab datangnya kekayaan.
عن ابن عبَّاس – رضي الله عنهما – أنَّ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – قال: (( تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ))
Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ikutilah antara haji dan umrah sebab keduanya menghapuskan kefakiran dan dosa-dosa sebagaimana tempaan besi menghapuskan karat besi”.
Referensi :
- https://almanhaj.or.id/82501-keutamaan-dan-tata-cara-umrah.html
- https://almanhaj.or.id/1055-u-m-r-a-h.html
- https://almanhaj.or.id/1071-rukun-haji-yang-diwajibkan-dalam-haji.html
- https://almanhaj.or.id/1071-rukun-haji-yang-diwajibkan-dalam-haji.html
- https://almanhaj.or.id/82816-kewajiban-ibadah-haji-dan-keutamaannya.html